Nikahku Bukan Karena Hijabnya
0leh: Lisa Nur
Rochmah {Sha}
Berulang
kali telah ku katakan jikalau diriku masih belum mapan kepadanya tetapi, dia
sering mengusikku agar segera kunikahi dirinya, entah apa yang dipikirkan dia
selalu merengek seperti anak kecil meminta mainan pada ibunya. Perasaan yang
diberikan pada diriku dari Allah, telah aku jadikan pelindung agar diriku tidak
terjerumus dari dosa, dan perasaanku ini hanya untuk Tari, calon isteriku. Tapi
terasa lelah bila dia selalu seperti itu, entahlah pusing sudah kepalaku hanya
sabarku lakukan.
“ Sudah, mbok yo ndang di nikah tho anake wong kuwi,,,.”
Saran mamak.
“ Kepiye tho mak, kulo geh dereng mapan tenanan.”
“ Loh kepiye maneh tho? Yang pentingkan jelas pekerjaanmu kuwi dokter, ya sudah segera menikah
saja le.”
“ Haaah,, mak sama
saja dengan Tari.”
Hela nafasku berat,
mamak berlalu begitu saja sperti bajai.
“ Aku hanya ingin
fokus dahulu dengan kuliah dan kerjaku.”
Tari adalah seorang
yang pandai, sholehah, santun, maklumlah seorang anak dari Kiyai Samadhi yang
sangat terkenal pondok pesantrenya itu di Solo, daerahku. Kurang seimbang
sepertinya dengan keluargaku, mereka keluarga yang tinggi derajatnya sedangkan
keluargaku orang yang biasa-biasa saja tidak terlalu mendalami keagamaan
ataupun mengerti kitab kuning yang ada di pesantren. Hanya mengerti praktikum
umum, saling melengkapi mungkin yaak (hehehe,,.).
Ayahku seorang dosen ilmu fisika, kakakku dosen bahasa inggris, sementara ibuku
membuka usaha cake, aku seorang
dokter umum, tetapi itu bukanlah masalah bagi keluarganya.
“ Aaaah ngopi dulu
ah,, di warung depan.”
Malam pukul
20:30 WIB, berjalan menuju di gang depan membutuhkam waktu sepuluh menit
kira-kiranya. Walau di rumah akan disediakan Bi Romlah, ART ( asisten rumah
tangga) di
rumahku, tapi bagi diriku kurang mengasyikkan tanpa berkumpul dengan kawan masa
SMA dahulu.
“ Wheeeleeeh,, Gus Sulkhan..?? Tumben ngopi??
Hahaha.”
“ Opo sih Jak? Gas,, gus ,, gas,, gus,, kayak rak kenal aku wae,,.”
“ Opo hee? Opo??!! Uhuk huelk.. huelk,,.”
Mas’ur tersedak
“ Tapi, sopo eg sampean kang? Kog kayak temanku
ya?.” Kata Rojak.
“ Hahaha,, mboh ah, muleh akuu.. .” Kataku dengan merajuk.
“ Wahh purik eg Jak, ternyata.”
“ Heem, hati-hati
loh ya Guss,,.” Ledek Rojak
“ Alaaah
,, ampun ngoten tah Gus, kan mau jadi menantunya Ki Samadhi?.” Bujuk Mas’ur,
dan akhirnya aku pun duduk bersama mereka.
“ Iyaa tapi biasa
aja gitu loh, diriku masih menjadi
dokter kog,.” Mereka hanya menganggukkan kepala, ternyata masih seperti dahulu
saat SMA masih keadaan yang nyaman nan damai.
“ Tak pikir yo, kog isoo kuwi loh dirimu
sama anaknya Kiyai??, opo yo kudu tak
guyuu?.” Cengir Mas’ur.
“
Ibaratnya ya, seperti kabel listrik yang tidak ada muatan proton ataupun neutron,
ya endhak bakal nyambung,,.” Tutur
Rojak.
“ Eleehhhh cuek ah,, bila Tuhan berkata ‘Kun Fayakun ‘ jadi maka jadilah, maka
apapun akan terjadi. Ya maka dari itu aku jadian dalam sebuah akad pernikahan
hehehe,,.”
“ Waah,, dalam
ilmu psikolog, seperti orang yang kurang piknik dan tertekan makanyaa jadi
kayaak ,,, .” Begitulah aku dengan teman karibku, bila bicara selalu
menggunakan keahlian atau profesi mereka, mengasyikkan bukan? Kita bisa saling
berbagi pengalaman dan juga pengetahuan yang luas.
* * * * *
*
Sebagai dokter
umum, menurutku ini kurang menantang serta kurang asyik tanpa mengetahui hal
yang lain, seperti penyakit dalam dan organ-organ yang penting. Pekerjaan
seperti inilah yang belum terlalu mapan untukku nikahi seorang putri Kiyai.
Esok, layaknya
seperti malam yang masih petang, para kodok sedang bersenandung di mana-mana,
hujan yang sejuk mengisyaratkan diriku agar tetap tenang. Mataku terkelip-kelip
karena kantuk sudahlah memerangiku, hawa nafsu dan syahwat untuk terseludup
pada kasurpun mulai muncul, kantuk bukan kantuk yang biasa, pukul 05:20 .
“ Mau subuh,
bismillahirrohmanirrohim, tangi Khan tangi,, ayo ngibadah!!!.” Desahku berusaha bangun dan bangkit dari syurga
(hehe..).
Memang benar
yang pernah diutarakan oleh guruku dahulu, bahwa jihad terbesar adalah jihad
melawan hawa nafsu, yaa setidaknya sekolah SMA dulu ada pelajaran agama
sedikitlah ‘ seng penteng barokah,
dilakoni lan di amalke ’, tutur beliau. Jalanan masih terasa sepi, biasanya
orang sudah ramai berduyun-duyun menuju masjid. Masjid masih sepi, hanya ada
marbot serta dua bapak saja.
“ Adzan dulu mas,
silahkan!.” Perintah marbotnya.
“ Tapi mas, saya kan
,,.”
“ Saya mohon mas,.”
Aku hanya menganggukkan kepala, hitung-hitung catatan amal (hehe..).
** * **
Hari terus berjalan tiada jeda,
ku teruskan kuliahku agar mampu untuk menjadi dokter khusus, diriku penasaran
tentang pengetahuan kedokteran agar diriku mengetahui seperti apa penyakit pada
manusia dan cara mengobatinya. Supaya diriku dapat menjaga Tari, seorang
isteriku kelak. Bukan luka di hatinya ataupun duka saja, tetapi raga dan
jiwanya ku jaga lahir batin (Ciyyyyyyeeeh). Inilah anugrah dari Tuhan,
tapi anugrah seperti itu terkadang disalah gunakan remaja untuk perbuatan dosa
dan maksiat, Astaghfirullah. Semakin kritis saja remaja zaman sekarang, entah
apa yang mereka pikirkan sehingga masa depan menjadi korban. Diriku tak punya
nyali untuk berhubungan di luar pernikahan yang sering disebut ‘ Pacaran
‘ diriku hanya langsung meminta di jodohkan dengan Tari kepada orang tuanya.
Semoga jodohku adalah jodoh dari Allah, amiiin.
** **
“ Sulkhaaaaaan!!!.”
Teriak seorang wanita, sesaat kupandang penuh dengan marah, dendam, dan kecewa,
lalu ku menundukkan kepala, ku abaikan dirinya.
“ Nikahi dirikuu,
sekarang!!.” Dia menghentikanku.
“ Cah wedhok gendheng, rak waras tah piyee??.”
Sahutku tanpa melihat wajahnya.
“ Mengapa?? Haaa?
Hanya karena Tari anak seorang Kiyai?.”
“ Bukan!.” Jawabku
singkat.
“ Atau dia berhijab?
Sedangkan aku tidak!!??.” Diriku hanya terdiam, akanku tunggu reaksinya
bagaimana. Tiba-tiba dia menangis dan kembali terdiam sejenak, aku tak akan
melihat wajahnya.
‘ Memalukan saja,
siapa wanita ini?!.’ Batinku.
“ Mengapa diam?
Haaah?.”
“ Jangan ganggu ketenangan benih sebuah
keluarga yang tinggal beberapa hitungan hari akan terjalin!! Bukan hijab di
kepalnya, tapi di hatinya yang melindungiku dan membuatku tenang.”
“ Jika begitu,,,.
Berzinalah denganku!??! Agar aku juga tenang.”
Kutampar
wajahnya hingga tiga kali, tanpa landasan sebongkah amarah dan emosi, karena
sungguh itu juga akan termasuk dosa karena melukai hati seseorang. Diriku ingin
menyadarkan dirinya bahwa agama islam bukan permainan!.
“
Istighfarlah,,, Istighfarlah!.”
“ Bukankah
manusia diciptakan saling berpasang-pasangan?.”
“ Itu benar,
tapi bukan untuk zina!!!
“
ولاتقربواالزنى إنه كان فاحشة”
,dan janganlah kamu mendekati
zina, zina itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. Jangan
menjadi wanita iblliiiiis!!!.” Aku pergi meninggalkan dirinya.
“ Wanita Edaaan,
tidak punya harga diri!! Di sisain kog
gelem? Di tawar pula dirinya!!.” Rojak dan Mas’ur mencoba menenangkanku.
***
Menjelang akad diriku
menceritakan kejadian yang ku alami, Tari terutama dan orang tuanya sebelum
terjadi sebuah salah paham. Mereka bisa menerima apa yang ku alami, bahkan Tari
bangga denganku karenaku melawan dosa yang telah menerjang ketenanganku. Abah
Samadhi hanya berkata.
“ Makane le dadi bocah ojo kembareken dadi
idola tho kuwe?.”
_SELESAI_
Oleh: Lisa Nur Rochmah