Rabu, 11 Januari 2017



Nikahku Bukan Karena Hijabnya    

                                                                                                  0leh: Lisa Nur Rochmah  {Sha}

                                 Berulang kali telah ku katakan jikalau diriku masih belum mapan kepadanya tetapi, dia sering mengusikku agar segera kunikahi dirinya, entah apa yang dipikirkan dia selalu merengek seperti anak kecil meminta mainan pada ibunya. Perasaan yang diberikan pada diriku dari Allah, telah aku jadikan pelindung agar diriku tidak terjerumus dari dosa, dan perasaanku ini hanya untuk Tari, calon isteriku. Tapi terasa lelah bila dia selalu seperti itu, entahlah pusing sudah kepalaku hanya sabarku lakukan.
                         “ Sudah, mbok yo ndang di nikah tho anake wong kuwi,,,.” Saran mamak.
                         Kepiye tho mak, kulo geh dereng mapan tenanan.”
                         Loh kepiye maneh tho? Yang pentingkan jelas pekerjaanmu kuwi dokter, ya sudah segera menikah saja le.”
                         “ Haaah,, mak sama saja dengan Tari.”
                            Hela nafasku berat, mamak berlalu begitu saja sperti bajai.
                         “ Aku hanya ingin fokus dahulu dengan kuliah dan kerjaku.”
                            Tari adalah seorang yang pandai, sholehah, santun, maklumlah seorang anak dari Kiyai Samadhi yang sangat terkenal pondok pesantrenya itu di Solo, daerahku. Kurang seimbang sepertinya dengan keluargaku, mereka keluarga yang tinggi derajatnya sedangkan keluargaku orang yang biasa-biasa saja tidak terlalu mendalami keagamaan ataupun mengerti kitab kuning yang ada di pesantren. Hanya mengerti praktikum umum, saling melengkapi mungkin yaak (hehehe,,.). Ayahku seorang dosen ilmu fisika, kakakku dosen bahasa inggris, sementara ibuku membuka usaha cake, aku seorang dokter umum, tetapi itu bukanlah masalah bagi keluarganya.
                          “ Aaaah ngopi dulu ah,, di warung depan.”
                               Malam pukul 20:30 WIB, berjalan menuju di gang depan membutuhkam waktu sepuluh menit kira-kiranya. Walau di rumah akan disediakan Bi Romlah, ART ( asisten rumah tangga) di rumahku, tapi bagi diriku kurang mengasyikkan tanpa berkumpul dengan kawan masa SMA dahulu.
                             Wheeeleeeh,, Gus Sulkhan..?? Tumben ngopi?? Hahaha.”
                             Opo sih Jak? Gas,, gus ,, gas,, gus,, kayak rak kenal aku wae,,.”
                             Opo hee? Opo??!! Uhuk huelk.. huelk,,.” Mas’ur tersedak
                           “ Tapi, sopo eg sampean kang? Kog kayak temanku ya?.” Kata Rojak.
                           “ Hahaha,, mboh ah, muleh akuu.. .” Kataku dengan merajuk.
                          “ Wahh purik eg Jak, ternyata.”
                           “ Heem, hati-hati loh ya Guss,,.” Ledek Rojak
                           “ Alaaah ,, ampun ngoten tah Gus, kan mau jadi menantunya Ki Samadhi?.” Bujuk Mas’ur, dan akhirnya aku pun duduk bersama mereka.
                           “ Iyaa tapi biasa aja gitu loh, diriku masih menjadi dokter kog,.” Mereka hanya menganggukkan kepala, ternyata masih seperti dahulu saat SMA masih keadaan yang nyaman nan damai.
                             Tak pikir yo, kog isoo kuwi loh dirimu sama anaknya Kiyai??, opo yo kudu tak guyuu?.” Cengir Mas’ur.
                             “ Ibaratnya ya, seperti kabel listrik yang tidak ada muatan proton ataupun neutron, ya endhak bakal nyambung,,.” Tutur Rojak.
                             Eleehhhh cuek ah,, bila Tuhan berkata ‘Kun Fayakun ‘ jadi maka jadilah, maka apapun akan terjadi. Ya maka dari itu aku jadian dalam sebuah akad pernikahan hehehe,,.”
                             “ Waah,, dalam ilmu psikolog, seperti orang yang kurang piknik dan tertekan makanyaa jadi kayaak ,,, .” Begitulah aku dengan teman karibku, bila bicara selalu menggunakan keahlian atau profesi mereka, mengasyikkan bukan? Kita bisa saling berbagi pengalaman dan juga pengetahuan yang luas.
                     * *  * *  * *

                              Sebagai dokter umum, menurutku ini kurang menantang serta kurang asyik tanpa mengetahui hal yang lain, seperti penyakit dalam dan organ-organ yang penting. Pekerjaan seperti inilah yang belum terlalu mapan untukku nikahi seorang putri Kiyai.
                               Esok, layaknya seperti malam yang masih petang, para kodok sedang bersenandung di mana-mana, hujan yang sejuk mengisyaratkan diriku agar tetap tenang. Mataku terkelip-kelip karena kantuk sudahlah memerangiku, hawa nafsu dan syahwat untuk terseludup pada kasurpun mulai muncul, kantuk bukan kantuk yang biasa, pukul 05:20 .
                            “ Mau subuh, bismillahirrohmanirrohim, tangi Khan tangi,, ayo ngibadah!!!.” Desahku berusaha bangun dan bangkit dari syurga (hehe..).
                                Memang benar yang pernah diutarakan oleh guruku dahulu, bahwa jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu, yaa setidaknya sekolah SMA dulu ada pelajaran agama sedikitlah ‘ seng penteng barokah, dilakoni lan di amalke ’, tutur beliau. Jalanan masih terasa sepi, biasanya orang sudah ramai berduyun-duyun menuju masjid. Masjid masih sepi, hanya ada marbot serta dua bapak saja.
                           “ Adzan dulu mas, silahkan!.” Perintah marbotnya.
                           “ Tapi mas, saya kan ,,.”
                           “ Saya mohon mas,.” Aku hanya menganggukkan kepala, hitung-hitung catatan amal (hehe..).
                                                             ** * **
                                Hari terus berjalan tiada jeda, ku teruskan kuliahku agar mampu untuk menjadi dokter khusus, diriku penasaran tentang pengetahuan kedokteran agar diriku mengetahui seperti apa penyakit pada manusia dan cara mengobatinya. Supaya diriku dapat menjaga Tari, seorang isteriku kelak. Bukan luka di hatinya ataupun duka saja, tetapi raga dan jiwanya ku jaga lahir batin (Ciyyyyyyeeeh). Inilah anugrah dari Tuhan, tapi anugrah seperti itu terkadang disalah gunakan remaja untuk perbuatan dosa dan maksiat, Astaghfirullah. Semakin kritis saja remaja zaman sekarang, entah apa yang mereka pikirkan sehingga masa depan menjadi korban. Diriku tak punya nyali untuk berhubungan di luar pernikahan yang sering disebut ‘ Pacaran ‘ diriku hanya langsung meminta di jodohkan dengan Tari kepada orang tuanya. Semoga jodohku adalah jodoh dari Allah, amiiin.
                                                         **  **
                           “ Sulkhaaaaaan!!!.” Teriak seorang wanita, sesaat kupandang penuh dengan marah, dendam, dan kecewa, lalu ku menundukkan kepala, ku abaikan dirinya.
                           “ Nikahi dirikuu, sekarang!!.” Dia menghentikanku.
                           Cah wedhok gendheng, rak waras tah piyee??.” Sahutku tanpa melihat wajahnya.
                           “ Mengapa?? Haaa? Hanya karena Tari anak seorang Kiyai?.”
                           “ Bukan!.” Jawabku singkat.
                           “ Atau dia berhijab? Sedangkan aku tidak!!??.” Diriku hanya terdiam, akanku tunggu reaksinya bagaimana. Tiba-tiba dia menangis dan kembali terdiam sejenak, aku tak akan melihat wajahnya.
                             ‘ Memalukan saja, siapa wanita ini?!.’ Batinku.
                            “ Mengapa diam? Haaah?.”
                            “ Jangan ganggu ketenangan benih sebuah keluarga yang tinggal beberapa hitungan hari akan terjalin!! Bukan hijab di kepalnya, tapi di hatinya yang melindungiku dan membuatku tenang.”
                             “ Jika begitu,,,. Berzinalah denganku!??! Agar aku juga tenang.”
                                     Kutampar wajahnya hingga tiga kali, tanpa landasan sebongkah amarah dan emosi, karena sungguh itu juga akan termasuk dosa karena melukai hati seseorang. Diriku ingin menyadarkan dirinya bahwa agama islam bukan permainan!.
                               “ Istighfarlah,,, Istighfarlah!.”
                               “ Bukankah manusia diciptakan saling berpasang-pasangan?.”
                               “ Itu benar, tapi bukan untuk zina!!!
                                                                             ولاتقربواالزنى إنه كان فاحشة
,dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. Jangan menjadi wanita iblliiiiis!!!.” Aku pergi meninggalkan dirinya.
                         “ Wanita Edaaan, tidak punya harga diri!! Di sisain kog gelem? Di tawar pula dirinya!!.” Rojak dan Mas’ur mencoba menenangkanku.
                                                           ***
                                  Menjelang akad diriku menceritakan kejadian yang ku alami, Tari terutama dan orang tuanya sebelum terjadi sebuah salah paham. Mereka bisa menerima apa yang ku alami, bahkan Tari bangga denganku karenaku melawan dosa yang telah menerjang ketenanganku. Abah Samadhi hanya berkata.
                            Makane le dadi bocah ojo kembareken dadi idola tho kuwe?.”


                                                        _SELESAI_
                                                                                    Oleh: Lisa Nur Rochmah