Sabtu, 29 Oktober 2016

Klutuk Emas minangka



                    
                       Klutuk Emas Minangka
                         Halauan-halauan, agh tersa sebah malas rasanya melihat dirinya selalu gentayangan di luar rumahku. Mau apa dia? Selalu saja dia dan dia, ada apa kiranya? Seperti hantu penarasaran saja dikata hantu, itu bukan? Dikata jin bukan jua? Ya Tuhan !! kurang besar pikirnya tanda tanyaku?.
                      “ Hey,, Sastroi!! Mau apa kau?!.” Teriakku.          
                      “ Akhirnya Jib, keluar juga dirimu.”
                      “ Tak usah bernego, apa yang kau mau? Gentayangan saja?!.”
                         “ Kau tahu? Aku ingin menagihmu?!.”
                             Lima belas tahun silam aku dan Sastroi atau Troi akrabnya kami bersahabat. Kami satu perguruan di sanggar ‘ Klutuk ‘ namanya. Ki Tutuk sang maha guru berminat mengadopsiku menjadi anaknya, walau Ki Tutuk tahu bahwa diriku masih mempunyi orang tua. Tapi entah kemana orang tuaku yang tak menghiraukan anaknya dan disia-siakan ini, padahal banyak orang ingin menjadikanku anaknya. Aku tak terkejut dan itu patut maklumlah orang tampan sepertiku pasti banyak peminatnya, campuran Australi-Jawa. Malangnya saja orang tuaku tak pernah tahu bahwa anak sepertiku ini banyak peminatnya.
                             Berbeda dengan Troi, orang kaya uang tapi miskin wajah, lihat saja hidungnya pelit seperti itu tak mau boros oksigen sukanya yang sedikit-sedikit tapi dirinya mampu mendapatkan apa saja yang dirinya mau. Yatim piatu tetapi harta melimpah bertatu, hemmm kurasa Tuhan memang adil.
                    “ Hey anakku, lembah Bacutan mulai jadi markas para perompak.”
                    “ Tapi apa yang harus kami lakukan Ki’?.”
                    “ Kami? Hah?? Tak ada kata kami, kau sendirian yang akan bertarung anakku.”
                    “ Biasanya aku dan Troi selalu bersama Ki? Bukanah kami duel  yang ideal?.”
                     “ Nasibmu Jib, bertarunglah kau sendiri. Akan ku bantu kau dengan do’aku.”
                       “ Do’a?? Wah,, wah ,, enak kau sambil minum kopi.”
                         Begitulah kami, selalu bersama meskipun kami bukanlah saudara sedarah kami bukan sederajat pula. Tapi kami saudara dalam batin, layaknya kembar identik sama tahu batin, sama tahu rasa.
                            Sedekat itulah aku dan Troi, wah bakal rindu diriku saatku pergi ke lembah Bacutan berperang menghadang perompak. Troi masih sakit badannya, ia terluka kepatok busur ‘ Areng Puteh ‘ saat latihan. Ya areng puteh busur kesayangan Ki Tutuk menghantam jidat Troi. Patut sajalah jidat Troi sebesar lapangan bola.
                        * * * * * * *
                             Tapak-setapak telah melangkah jauh dari sanggar perjalanan kini harus ku lalui dari desaku Karang Kerang, melampah ke lembah Bacutan. Jauh sangat harus beberapa kota yang ku lewati sehingga kakiku hanya tinggal tulang yang tak punya bentuk.
                     “ Bagaimana bisa diriku Ki? Perjalanan, rintangan telah lebih dahulu menghabiskan tenagaku, tubuhku seperti tengkorak berjalan. Mampukah aku Ki? Melawan perompak ganas itu?.” Gersahku.
                     ‘ Ah apa aku masih tampan? Aku merasa seperti sudah tua.’  Batinku. Aku abaikan semua itu dan aku terus berjalan menelusuri rel lalu lintas perjalanan tanpa takut kembali dilanda lelah.
                            Dua minggu masih belum menemukan lembah Bacutan, yang menjadi pertanyaanku adalah seperti apa lembah Bacutan dan dimana letaknya? Ah bodohnya aku tak bertanya lebih dahulu kepada Ki Tutuk. Jika aku ingin menemukan jawabannya harusku bertapa selama delapan hari beserta pemulihanku, hanya membutuhkan aliran air deras atau air terjun. Akan ku cari dan ku telusuri, benar-benar menyulitkanku bebatuan besar ini tapi akhirnya aku puas melihat air jernih itu seperti cermin.
                        ‘ Ya Tuhan!! Seperti kakek-kakek saja diriku. Keriput banyak kerut, kurus tak terurus, hanya tinggal tulang yang tersisa seperti kekurangan gizi. Yaa semua itu benar!.’  Batinku. Aku sangat terkejut melihat tampanku telah hilang, tubuh kekar berubah kerempeng .
                           “ Ya sudahlah aku bertapa saja.” Gersahku.
                           Apapunku lakukan demi aku menemukan jawabannya, hari terus berputar tanpa henti berlalu seperti angin dan terasa cepat ku ringkun.
                       “ Anakku,, dengarkan aku kembali sajalah, aku merasa gelisah. Aku takut kau akan terluka.” Sura itu terdengar jelas.
                        “ Tidak Ki, bukankah aku terbiasa dengan sayatan?.”
                        “ Baiklah, biar merpatiku yang menuntunmu kesana.”
                        “ Terimakasih Ki, restu Tuhan menjagaku.”
                            Terasa lebih pulih sekarang, hmmmm tak seperti biasa Ki Tutuk menghawatirkanku seperti ini, mungkin karena diriku sendiri. Tak lama merpati mendampingiku, burung cantik itu menuntunku ke lembah Bacutan.
          * * * * * * * * * *
                           “ Sebenarnya ini desa nak, bukan lembah.”
                           ‘ Tapi mengapa merpati itu menuntunku sampai di sini?.’ Pikirku . Ya aku tahu ini sebuah desa, lalu apa yang disebut lembah Bacutan? Desa asri dan kaya terlihat para saudagarnya. Masa bodoh, yang penting aku ingin merbahkan tubuhku dan mengisi perut.
                             “ Saatnya pasang muka tampan, siapa tahu ada yang iba.” Celotehku.
                               Benarnya, mereka saling berebutan agar aku tingal di rumah mereka bahkan ada yang inginku pinang, merasa mulia diriku di sini. Ini cara yangku miliki ‘ Pasang muka tampan’ . Aku bimbang banyak yang menawariku semua orang kecuali seorang nenek dan cucu gadis manisnya hanya terdiam serta enggan melirikku, tak si Nenek yang ramah terlihat di wajahnya. Aku menghampiri mereka. Semua wajah terlihat kecewa ketika aku sudah memilih.
                      “ Nek, bolehkah diriku tinggal bersama Nenek beberapa saat?.”
                      “ Apakah cucu setampan ini berminat tinggal di rumah gubuk  milik kami? Bukan saya melarang hanya tak mungkin saya tega melihat cucu segagah ini tinggal di gubuk lusuh.”
                       “ Tak apa nek saya malah menyukainya.”
                             Tapi cucunya hanya terdiam dan selalu buang muka padaku, dirinya acuh padaku. Sudahlah biarkan walaupun ia acuh padaku tetap sajaku tak bisa acuh padanya, sungguh manis gadis itu. Lanjutnya aku membantu nenek mengemasi barang dagangnya, terlihat terburu-buru semua ketika petang menjelang. Desa pedagang menurutku ini benar-benar ramai pengunjung, semua warga desa ini pedagang, hebat!.
                               Mengasikkan sungguh desa ini, berjalan menuju rumah dengan melihat matahari mulai sembunyi di barat.
                        “ Siapa cu namamu?.”
                        “ Munjib nek.”
                         “ Perkenalkan cu, Saraswati Minangkasih ini cucu saya.”
                                 Aku tersenyum padanya tapi yang ku dapatkan tatapan muka rata, ia tak tersenyum sama sekali. Saras berkulit putih, berhidung mancung,Tuhan sungguh manis dirinya. Aku tak percaya bila dirinya asli penduduk desa sini, aku yakin sekali wjahnya tak mirip dengan neneknya, apalagi dengan penduduk desa ini yang semuanya berkulit sawo matang.
                      “ Cu, pesanku jangan pernah keluar dari gubuk saat malam.”
                      Ada apa Nek?.”
                      “ Setiap malam desa kami .. .” Belum sampai berkata Saras menyelanya.
                       “ Nenek??!!. Tak usah lah, ingatkah nenek ancaman mereka?.”
                       “ Ancaman apa Saras?.” Dirinya kembali acuh padaku, Ya Tuhan sanggupkah aku?.
                                  Benar akan ku tunggu petang datang apakah seperti perkiraan yang terpikirkan? Atau hanya sebuah cibiran? Akan ku tunggu itu, apa yang tak ku ketahui dan apa yang terjadi? Aku benar-benar penasaran.
                       “ Hey!! Buka cepat pintunya! Keluar kau nenek tua jangan seperti siput! Atau cucu gadismu menjadi bayarannya! Hahahah,,,.”
                        “ Ya serahkan saja cucu gadismu nek. Pasti tuamu akan aman nenek tua!.”
                              Pintu bergetar bersamaan dengan gubuknya, gubuk yang lapuk akan roboh bila tertera angin ini bergoyang-goyaong terasa saat para perompak itu menggedor pintu gubuk si nenek.
                       ‘ Apa yang terjadi? Ricuh terdengar jelas?.’ Tanyaku dalam hati.
                        “ Aku akan pergi dahulu, tunggulah disini. Jagalah Saras.”
                            Aku berdebat dengan pikiranku, apa yang akan terjadi? Menjaga ketenangan dalam gubuk, kami berbisik dalam ketakutan. Apa nenek akan baik-baik saja? Ah rumit sekali.
                         “ Aku tahu kau sedang berdebat dengan pikiranmu sendiri, mereka para perompak yang suka merampas hak. Setiap hasil barang dagang dari berdagang, kandas. Setiap malam mereka akan menghabis tuntaskan dan semua tlah terampas.”
                               Aku baru mendengar ia berbicara halus seperti itu padaku.
                         “ Lalu? Nenek di mana?.” Bualku.
     * * * * * *
                                  Seperti biasa esok senja terasa aman walau malam porak poranda, aku baru tersadar bahwa ini adalah lembah Bacutan.
                           ‘ Ah aku bodoh sekali.’ Batinku.
                                   Hanya malam mereka beraksi untuk untuk menghabisi seluruh isi jeritan, tangis dan teriakan minta tolong saja yang terdengar setiap malam. Sayangnya saja tak ada yang berani dan enggan keluar rumah untuk menolong. Di lembah Bacutan ini tak ad orang yang berani cerita apapun yang selalu terjadi pada lembah ini. Itu berar ‘ Lembah.’ Sebutannya karena menurut mereka ini desa bukan desa tapi lembah pembantaian. Jika mereka bercerita tentang lembah ini maka tak akan ada orang yang berani membeli bahan baku lagi disini dan akan terjadi kematian besar-besaran. Di lembah inilah para penjuru saudagar kaya berbelanja serta terkenal para pedagangnya yang ramah, bukan aneh lagi bila semua warga ini berdagang dan tak di perbolehkannya penduduk lain yang berjualalan di sini
                              Lebih ironisnya, para penduduk lembah Bacutan tak mampu keluar dan berlindung di desa lain yang lebih aman sebab, sekali mereka keluar maka keluar pula nyawa mereka. Banyak pengintai di sini, biadab!.
                          Apa yang akan ku lakukan? Nenek tak ada kembali di Bacutan? Bingung seperti orang linglung. Aku dan Saras berhari-hari berada dalam gubuk, aku menyusun strategiku sendiri. Saras ketakutan walau pagi masih terang.
                       “ Apa yang kamu takutkan Saras?.”
                       “ Mati.” Aku terkejut, apa yang ia maksudkan?.
                        “ Kamu tak akan mati,,,.”
                        “ Aku tak takut mati, tapi ada sesuatu hal yang belum aku sampaikan pada seseorang. Bila aku mati siapa yang menyampaikan pesanku?.”
                         ‘ Tapi aku berjanji akan melindungimu Saras, aku tak ingin kau mati,, karena aku menemukan sesuatu pada hatiku, sebuah cinta.’ Batinku.
                          “ Apa yang mereka minta.” Aku mencoba tegar, walau hanya sepatah kata terucap tapi telah melemahkanku ‘ Mati.’.
                          “ Hasil berdagang, jika tidak satu persatu keluarganya dibantai.”
                              Benar, aku tak tahan untuk memberantas mereka. Hatiku gaduh sendiri dengan pertimbanganku. Apakah Saras harus mengetahui mengapa aku di sini? Dan aku mendapatkan tugas memberantas para perompak ganas?.
                          “ Saras, inginku jujur berkata. Bahwa aku mempunyai tugas untuk memberantas mereka.”
                              Dia menatapku dengan pandangan tak biasa,saatku tatap matanya hatiku berdetak terlalu cepat.
                          “ Sebenarnya aku punya misi yang sama, hanya saja aku butuh waktu. Kematian ada pada tatapanku.”
                           ‘ Jangan kau bicara tentang kematian Saras, jangan pernah.’  Batinku. Aku semakin yakin bahwa dirinya memang bukan penduduk asli. Hampir tujuh hari kami selalu di dalam rumah begitupun si nenek tak pernah kembali. Makin rumit saja.
                                                  * * * * * * * * * * *
                        “ Wahai Sarasku. Keluarlah aku tahu kau di dalam, kami mengintai dan mengawasimu.” Suara para perompak itu.
                     “ Tak ingatkah kau dengan nenekmu?.”
                           Saras keluar dengan lantangnya, sebelumnya kami sudah menyusun semua rencana. Semoga berhasil!.
                       “ Selamat malam para bajingan, apa kabar kematian kalian!!.” Sahut Saras dengan beraninya.
                      “ Sungguh kata-kata yang indah, manis. Kau lihat ini? Nenekmu sayang,, hahaha.” Mereka membuang jasad nenek di depan Saras, sudah kaku dan tak bernapas. Aku melihat semua itu di lubang kecil dekat pintu.
                         “ Maafkan kami sayang, nenek tua ini mati kering dan tak terselamatkan. Hahahaha.” Ecoh para perompak, tubuh nenek penuh luka penyiksaan dan gering kering. Air mata Saras mulai bercucuran ia lemah tak berdaya melihat jasad nenek begitu mengenaskan.
                          “ Kau menangis tak ada guna sayang, hiduplah bersama kami dan kami akan pergi dari sini.”
                          “ Baiklah, tapi jangan pernah kembali ke sini.”
                         ‘ Tidak Saras bukan seperti itu rancangannya!.’  Teriak batinku. Tak tahan melihat ini, aku keluar dengan serangan tiba-tiba. Akan ku bunuh mereka semua dan itu janjiku!. Dari kelincahannya dia memang pendekar ‘ Minangka’  menurut cerita yang aku dengar darinya, dendam amarah terpancar dari raut wajahnya.
                              Pertempuran kami berakhir dengan mulus para perompak tuntas tewas. Penduduk desa bersorak bahagia, begitupun diriku. Sayang, tawaku berubah melihat Saras ternyata terbaring lemah di tanah.
                          “ Saras, bertahanlah akan ku bawa kau berobat. Bertahanlah!.”
                          “ Percuma Jib, ajal telah lebih dulu tiba menghampiriku.” Katanya dengan senyuman manis.
                           “ Tidak,, bukankah kamu belum menyampaikan pesan pada seseorang.”
                            “ Benar, tapi Tuhan memilihkanku orang yang akan menyampaikan pesan itu.”.
                         “ Tidak!! Jangan, bahkan kita belum hidup bersama.”
                         “ Aku akan tetap di hatimu, meski bukan ragaku. Sampaikan saja kotak ini untuk abangku, Troi. Dan salam untuknya, bahwa adiknya lebih dulu gugur.” Aku menangis, ia tertancap pusakanya sendiri ‘ Emas Minangka.’ Hanya bisa memeluknya dan melihat ia tersenyum.
                         “ Cabut saja pusaka ini dan simpanlah untukmu.” Perlahan matanya tertutup beriringan dengan senyumannya. Dan berhembus napas terakhirnya.
                         “ Tidaaaaak!!. Mengapa aku harus meihat senyummu disaat terakhir Saras!!.” Aku berteriak, seluruh penduduk menangis melihat tragedi ini. Mereka berjanji akan membuatkan makam kepahlawannya.
                              Saras tak bergerak kembali, bahkan senyumnya masih ada. Aku tak mampu berkata lagi, hanya tangis.
    * * * * * * * * * *
                              Seruput kopi hitam menemaniku bercerita dengan Troi, lembah Bacutanlah saksi semua itu.
                            “ Tapi aku tak menyangka kau abangnya, tak ada kemiripan yang bisa meyakinkanku kau abangnya.”
                            “ Hahaha, memanglah Jib, jika Saras masih hidup pasti kau jadi adikku. Maaf sebelumnya aku telah menghantuimu.”
                             “ Maafkan pula mantan calon adikmu ini, yang tak langsung mencarimu. Karena duka ini tak kunjung hilang walau bertahun-tahun lamanya.”
                                  Begitu kami saling bercanda, aku memberikan kotak itu kepada Troi, yang di dalamnya terdapat sebuah surat yang berisikan.
                      “ Dalam kelam suram
                     Terbelit sebuah harapan
                                Takdir tak bisa kita melakukan genjatan
                             Dalam sebuah symphony ingatan
                                 Terlilit sayatan harapan
                           Kembali satu dalam kebersamaan
                                                          Salam Saras.”
                           Troi terharu melihat surat itu, aku kembali menangis dalam hati bahwa fakta tak bisa bergulir. Perasaan ini masih untuknya, ku rela tak menikah dengan siapapun karena sungguh perasaan ini terukir indah untuk Saras.
                              “ Apa nama makam adikku? Bawa aku kesana.”
                              “ Klutuk Emas Minagka.”
                                                                                        Selesai
                                                                   Oleh: Lisarchm@gmail.com