Klutuk
Emas Minangka
Halauan-halauan, agh tersa sebah
malas rasanya melihat dirinya selalu gentayangan di luar rumahku. Mau apa dia?
Selalu saja dia dan dia, ada apa kiranya? Seperti hantu penarasaran saja dikata
hantu, itu bukan? Dikata jin bukan jua? Ya Tuhan !! kurang besar pikirnya tanda
tanyaku?.
“ Hey,, Sastroi!! Mau apa
kau?!.” Teriakku.
“ Akhirnya Jib, keluar juga dirimu.”
“ Tak usah bernego, apa yang kau mau? Gentayangan saja?!.”
“ Kau tahu? Aku ingin menagihmu?!.”
Lima belas tahun silam aku dan Sastroi atau
Troi akrabnya kami bersahabat. Kami satu perguruan di sanggar ‘ Klutuk ‘ namanya. Ki Tutuk sang maha
guru berminat mengadopsiku menjadi anaknya, walau Ki Tutuk tahu bahwa diriku
masih mempunyi orang tua. Tapi entah kemana orang tuaku yang tak menghiraukan
anaknya dan disia-siakan ini, padahal banyak orang ingin menjadikanku anaknya.
Aku tak terkejut dan itu patut maklumlah orang tampan sepertiku pasti banyak
peminatnya, campuran Australi-Jawa. Malangnya saja orang tuaku tak pernah tahu
bahwa anak sepertiku ini banyak peminatnya.
Berbeda dengan Troi, orang kaya uang tapi
miskin wajah, lihat saja hidungnya pelit seperti itu tak mau boros oksigen
sukanya yang sedikit-sedikit tapi dirinya mampu mendapatkan apa saja yang dirinya
mau. Yatim piatu tetapi harta melimpah bertatu, hemmm kurasa Tuhan memang adil.
“ Hey anakku, lembah
Bacutan mulai jadi markas para perompak.”
“ Tapi apa yang harus kami
lakukan Ki’?.”
“ Kami? Hah?? Tak ada kata
kami, kau sendirian yang akan bertarung anakku.”
“ Biasanya aku dan Troi
selalu bersama Ki? Bukanah kami duel
yang ideal?.”
“ Nasibmu Jib,
bertarunglah kau sendiri. Akan ku bantu kau dengan do’aku.”
“ Do’a?? Wah,, wah ,, enak kau sambil minum kopi.”
Begitulah kami, selalu bersama meskipun kami
bukanlah saudara sedarah kami bukan sederajat pula. Tapi kami saudara dalam
batin, layaknya kembar identik sama tahu batin, sama tahu rasa.
Sedekat itulah aku dan Troi, wah bakal rindu diriku saatku pergi ke
lembah Bacutan berperang menghadang perompak. Troi masih sakit badannya, ia
terluka kepatok busur ‘ Areng Puteh ‘
saat latihan. Ya areng puteh busur kesayangan
Ki Tutuk menghantam jidat Troi. Patut sajalah jidat Troi sebesar lapangan bola.
* * * * * * *
Tapak-setapak telah melangkah jauh dari
sanggar perjalanan kini harus ku lalui dari desaku Karang Kerang, melampah ke
lembah Bacutan. Jauh sangat harus beberapa kota yang ku lewati sehingga kakiku
hanya tinggal tulang yang tak punya bentuk.
“ Bagaimana bisa diriku
Ki? Perjalanan, rintangan telah lebih dahulu menghabiskan tenagaku, tubuhku
seperti tengkorak berjalan. Mampukah aku Ki? Melawan perompak ganas itu?.”
Gersahku.
‘
Ah apa aku masih tampan? Aku merasa seperti sudah tua.’ Batinku. Aku abaikan semua itu dan aku terus
berjalan menelusuri rel lalu lintas perjalanan tanpa takut kembali dilanda
lelah.
Dua minggu masih
belum menemukan lembah Bacutan, yang menjadi pertanyaanku adalah seperti apa
lembah Bacutan dan dimana letaknya? Ah bodohnya aku tak bertanya lebih dahulu
kepada Ki Tutuk. Jika aku ingin menemukan jawabannya harusku bertapa selama
delapan hari beserta pemulihanku, hanya membutuhkan aliran air deras atau air
terjun. Akan ku cari dan ku telusuri, benar-benar menyulitkanku bebatuan besar
ini tapi akhirnya aku puas melihat air jernih itu seperti cermin.
‘ Ya Tuhan!! Seperti kakek-kakek saja diriku. Keriput banyak kerut,
kurus tak terurus, hanya tinggal tulang yang tersisa seperti kekurangan gizi.
Yaa semua itu benar!.’ Batinku. Aku
sangat terkejut melihat tampanku telah hilang, tubuh kekar berubah kerempeng .
“ Ya sudahlah aku
bertapa saja.” Gersahku.
Apapunku lakukan
demi aku menemukan jawabannya, hari terus berputar tanpa henti berlalu seperti
angin dan terasa cepat ku ringkun.
“ Anakku,, dengarkan aku
kembali sajalah, aku merasa gelisah. Aku takut kau akan terluka.” Sura itu
terdengar jelas.
“ Tidak Ki, bukankah
aku terbiasa dengan sayatan?.”
“ Baiklah, biar
merpatiku yang menuntunmu kesana.”
“ Terimakasih Ki, restu
Tuhan menjagaku.”
Terasa lebih pulih
sekarang, hmmmm tak seperti biasa Ki
Tutuk menghawatirkanku seperti ini, mungkin karena diriku sendiri. Tak lama
merpati mendampingiku, burung cantik itu menuntunku ke lembah Bacutan.
* * * * * * * * * *
“ Sebenarnya ini
desa nak, bukan lembah.”
‘ Tapi mengapa merpati itu menuntunku sampai di sini?.’ Pikirku .
Ya aku tahu ini sebuah desa, lalu apa yang disebut lembah Bacutan? Desa asri
dan kaya terlihat para saudagarnya. Masa bodoh, yang penting aku ingin merbahkan
tubuhku dan mengisi perut.
“ Saatnya pasang
muka tampan, siapa tahu ada yang iba.” Celotehku.
Benarnya, mereka
saling berebutan agar aku tingal di rumah mereka bahkan ada yang inginku pinang,
merasa mulia diriku di sini. Ini cara yangku miliki ‘ Pasang muka tampan’ . Aku bimbang banyak yang menawariku semua
orang kecuali seorang nenek dan cucu gadis manisnya hanya terdiam serta enggan
melirikku, tak si Nenek yang ramah terlihat di wajahnya. Aku menghampiri
mereka. Semua wajah terlihat kecewa ketika aku sudah memilih.
“ Nek, bolehkah diriku
tinggal bersama Nenek beberapa saat?.”
“ Apakah cucu setampan
ini berminat tinggal di rumah gubuk
milik kami? Bukan saya melarang hanya tak mungkin saya tega melihat cucu
segagah ini tinggal di gubuk lusuh.”
“ Tak apa nek saya malah
menyukainya.”
Tapi cucunya hanya
terdiam dan selalu buang muka padaku, dirinya acuh padaku. Sudahlah biarkan
walaupun ia acuh padaku tetap sajaku tak bisa acuh padanya, sungguh manis gadis
itu. Lanjutnya aku membantu nenek mengemasi barang dagangnya, terlihat
terburu-buru semua ketika petang menjelang. Desa pedagang menurutku ini benar-benar
ramai pengunjung, semua warga desa ini pedagang, hebat!.
Mengasikkan
sungguh desa ini, berjalan menuju rumah dengan melihat matahari mulai sembunyi
di barat.
“ Siapa cu namamu?.”
“ Munjib nek.”
“ Perkenalkan cu,
Saraswati Minangkasih ini cucu saya.”
Aku tersenyum
padanya tapi yang ku dapatkan tatapan muka rata, ia tak tersenyum sama sekali.
Saras berkulit putih, berhidung mancung,Tuhan sungguh manis dirinya. Aku tak
percaya bila dirinya asli penduduk desa sini, aku yakin sekali wjahnya tak
mirip dengan neneknya, apalagi dengan penduduk desa ini yang semuanya berkulit sawo matang.
“ Cu, pesanku jangan pernah keluar dari gubuk saat malam.”
“ Ada apa Nek?.”
“ Setiap malam desa kami
.. .” Belum sampai berkata Saras menyelanya.
“ Nenek??!!. Tak usah
lah, ingatkah nenek ancaman mereka?.”
“ Ancaman apa Saras?.”
Dirinya kembali acuh padaku, Ya Tuhan sanggupkah aku?.
Benar akan ku
tunggu petang datang apakah seperti perkiraan yang terpikirkan? Atau hanya
sebuah cibiran? Akan ku tunggu itu, apa yang tak ku ketahui dan apa yang
terjadi? Aku benar-benar penasaran.
“ Hey!! Buka cepat
pintunya! Keluar kau nenek tua jangan seperti siput! Atau cucu gadismu menjadi
bayarannya! Hahahah,,,.”
“ Ya serahkan saja cucu
gadismu nek. Pasti tuamu akan aman nenek tua!.”
Pintu bergetar
bersamaan dengan gubuknya, gubuk yang lapuk akan roboh bila tertera angin ini
bergoyang-goyaong terasa saat para perompak itu menggedor pintu gubuk si nenek.
‘ Apa yang terjadi? Ricuh terdengar jelas?.’ Tanyaku dalam hati.
“ Aku akan pergi dahulu,
tunggulah disini. Jagalah Saras.”
Aku berdebat dengan
pikiranku, apa yang akan terjadi? Menjaga ketenangan dalam gubuk, kami berbisik
dalam ketakutan. Apa nenek akan baik-baik saja? Ah rumit sekali.
“ Aku tahu kau sedang
berdebat dengan pikiranmu sendiri, mereka para perompak yang suka merampas hak.
Setiap hasil barang dagang dari berdagang, kandas. Setiap malam mereka akan
menghabis tuntaskan dan semua tlah terampas.”
Aku baru
mendengar ia berbicara halus seperti itu padaku.
“ Lalu? Nenek di
mana?.” Bualku.
* * * * * *
Seperti biasa
esok senja terasa aman walau malam porak poranda, aku baru tersadar bahwa ini
adalah lembah Bacutan.
‘ Ah aku bodoh sekali.’ Batinku.
Hanya malam
mereka beraksi untuk untuk menghabisi seluruh isi jeritan, tangis dan teriakan
minta tolong saja yang terdengar setiap malam. Sayangnya saja tak ada yang
berani dan enggan keluar rumah untuk menolong. Di lembah Bacutan ini tak ad
orang yang berani cerita apapun yang selalu terjadi pada lembah ini. Itu berar ‘ Lembah.’ Sebutannya karena menurut
mereka ini desa bukan desa tapi lembah pembantaian. Jika mereka bercerita
tentang lembah ini maka tak akan ada orang yang berani membeli bahan baku lagi
disini dan akan terjadi kematian besar-besaran. Di lembah inilah para penjuru
saudagar kaya berbelanja serta terkenal para pedagangnya yang ramah, bukan aneh
lagi bila semua warga ini berdagang dan tak di perbolehkannya penduduk lain
yang berjualalan di sini
Lebih ironisnya,
para penduduk lembah Bacutan tak mampu keluar dan berlindung di desa lain yang
lebih aman sebab, sekali mereka keluar maka keluar pula nyawa mereka. Banyak
pengintai di sini, biadab!.
Apa yang akan ku
lakukan? Nenek tak ada kembali di Bacutan? Bingung seperti orang linglung. Aku
dan Saras berhari-hari berada dalam gubuk, aku menyusun strategiku sendiri.
Saras ketakutan walau pagi masih terang.
“ Apa yang kamu takutkan
Saras?.”
“ Mati.” Aku terkejut,
apa yang ia maksudkan?.
“ Kamu tak akan
mati,,,.”
“ Aku tak takut mati,
tapi ada sesuatu hal yang belum aku sampaikan pada seseorang. Bila aku mati
siapa yang menyampaikan pesanku?.”
‘ Tapi aku berjanji akan melindungimu Saras, aku tak ingin kau mati,,
karena aku menemukan sesuatu pada hatiku, sebuah cinta.’ Batinku.
“ Apa yang mereka
minta.” Aku mencoba tegar, walau hanya sepatah kata terucap tapi telah
melemahkanku ‘ Mati.’.
“ Hasil berdagang,
jika tidak satu persatu keluarganya dibantai.”
Benar, aku tak
tahan untuk memberantas mereka. Hatiku gaduh sendiri dengan pertimbanganku.
Apakah Saras harus mengetahui mengapa aku di sini? Dan aku mendapatkan tugas
memberantas para perompak ganas?.
“ Saras, inginku
jujur berkata. Bahwa aku mempunyai tugas untuk memberantas mereka.”
Dia menatapku
dengan pandangan tak biasa,saatku tatap matanya hatiku berdetak terlalu cepat.
“ Sebenarnya aku
punya misi yang sama, hanya saja aku butuh waktu. Kematian ada pada tatapanku.”
‘ Jangan kau bicara tentang kematian Saras, jangan pernah.’ Batinku. Aku semakin yakin bahwa dirinya
memang bukan penduduk asli. Hampir tujuh hari kami selalu di dalam rumah
begitupun si nenek tak pernah kembali. Makin rumit saja.
* * * * * * * * * * *
“ Wahai Sarasku. Keluarlah aku tahu
kau di dalam, kami mengintai dan mengawasimu.” Suara para perompak itu.
“ Tak ingatkah kau dengan
nenekmu?.”
Saras keluar dengan
lantangnya, sebelumnya kami sudah menyusun semua rencana. Semoga berhasil!.
“ Selamat malam para
bajingan, apa kabar kematian kalian!!.” Sahut Saras dengan beraninya.
“ Sungguh kata-kata yang
indah, manis. Kau lihat ini? Nenekmu sayang,, hahaha.” Mereka membuang jasad
nenek di depan Saras, sudah kaku dan tak bernapas. Aku melihat semua itu di
lubang kecil dekat pintu.
“ Maafkan kami sayang,
nenek tua ini mati kering dan tak terselamatkan. Hahahaha.” Ecoh para perompak,
tubuh nenek penuh luka penyiksaan dan gering kering. Air mata Saras mulai
bercucuran ia lemah tak berdaya melihat jasad nenek begitu mengenaskan.
“ Kau menangis tak
ada guna sayang, hiduplah bersama kami dan kami akan pergi dari sini.”
“ Baiklah, tapi
jangan pernah kembali ke sini.”
‘ Tidak Saras bukan seperti itu rancangannya!.’ Teriak batinku. Tak tahan melihat ini, aku
keluar dengan serangan tiba-tiba. Akan ku bunuh mereka semua dan itu janjiku!.
Dari kelincahannya dia memang pendekar ‘
Minangka’ menurut cerita yang aku
dengar darinya, dendam amarah terpancar dari raut wajahnya.
Pertempuran kami
berakhir dengan mulus para perompak tuntas tewas. Penduduk desa bersorak
bahagia, begitupun diriku. Sayang, tawaku berubah melihat Saras ternyata
terbaring lemah di tanah.
“ Saras, bertahanlah
akan ku bawa kau berobat. Bertahanlah!.”
“ Percuma Jib, ajal
telah lebih dulu tiba menghampiriku.” Katanya dengan senyuman manis.
“ Tidak,, bukankah
kamu belum menyampaikan pesan pada seseorang.”
“ Benar, tapi Tuhan
memilihkanku orang yang akan menyampaikan pesan itu.”.
“ Tidak!! Jangan,
bahkan kita belum hidup bersama.”
“ Aku akan tetap di
hatimu, meski bukan ragaku. Sampaikan saja kotak ini untuk abangku, Troi. Dan
salam untuknya, bahwa adiknya lebih dulu gugur.” Aku menangis, ia tertancap
pusakanya sendiri ‘ Emas Minangka.’
Hanya bisa memeluknya dan melihat ia tersenyum.
“ Cabut saja pusaka ini dan
simpanlah untukmu.” Perlahan matanya tertutup beriringan dengan senyumannya.
Dan berhembus napas terakhirnya.
“ Tidaaaaak!!. Mengapa
aku harus meihat senyummu disaat terakhir Saras!!.” Aku berteriak, seluruh
penduduk menangis melihat tragedi ini. Mereka berjanji akan membuatkan makam
kepahlawannya.
Saras tak
bergerak kembali, bahkan senyumnya masih ada. Aku tak mampu berkata lagi, hanya
tangis.
* * * * * * * * * *
Seruput kopi
hitam menemaniku bercerita dengan Troi, lembah Bacutanlah saksi semua itu.
“ Tapi aku tak
menyangka kau abangnya, tak ada kemiripan yang bisa meyakinkanku kau abangnya.”
“ Hahaha, memanglah Jib,
jika Saras masih hidup pasti kau jadi adikku. Maaf sebelumnya aku telah
menghantuimu.”
“ Maafkan pula
mantan calon adikmu ini, yang tak langsung mencarimu. Karena duka ini tak kunjung
hilang walau bertahun-tahun lamanya.”
Begitu kami
saling bercanda, aku memberikan kotak itu kepada Troi, yang di dalamnya
terdapat sebuah surat yang berisikan.
“ Dalam kelam suram
Terbelit sebuah harapan
Takdir tak bisa
kita melakukan genjatan
Dalam sebuah
symphony ingatan
Terlilit
sayatan harapan
Kembali satu dalam
kebersamaan
Salam Saras.”
Troi terharu melihat
surat itu, aku kembali menangis dalam hati bahwa fakta tak bisa bergulir.
Perasaan ini masih untuknya, ku rela tak menikah dengan siapapun karena sungguh
perasaan ini terukir indah untuk Saras.
“ Apa nama makam adikku? Bawa aku
kesana.”
“ Klutuk Emas
Minagka.”
Selesai
Oleh: Lisarchm@gmail.com